Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Islam. Tampilkan semua postingan

28 Oktober 2014

Mencintai Istri Tanpa Syarat

Eko Pratomo Suyatno, namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri Reksadana di Indonesia dan juga direktur dari Fortis Asset Management yang sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari sinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. Tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnya pun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno selalu sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yang dia alami seharian.
Walaupun istrinya hanya bisa menganggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkattidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke-4 buah hati mereka. 
Sekarang anak-anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yang masih kuliah.

Pada suatu hari saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keliarganya masing-masing, Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu 'agar semua ananya dapat berhasil.'

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

"Pak, kami ingin merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak...
bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu." sambil air mata si sulung berlinang.

"Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibu pun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian." Si sulung melanjutkan permohonannya.

"Anak-anakku. Jikalau perkawinan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian *sejenak kerongkongannya tersekat*
kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun.
Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini?
Kalian menginginkan bapak bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaannya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit." Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya.

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno, dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu.

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat istrinya yang sudah tidak bisa apa-apa.
Disaat itulah meledak tangissnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuan pun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita:
"Jika manusia di dunia ini mengangungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yang lucu-lucu. Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit." Sambil menangis.

"Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah. dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya. 
BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH"


Source: Whatsaap Group

20 April 2013

Penulisan In shaa Allah / In syaa Allah (?)

Assalamu’alaykum readers.. ^^
Gimana nih kabar kalian? baik? :D
Nah kali ini saya mau posting yang rada kontroversi nihh....
tentang penulisan lafal yang dibawah ini *nunjukkebawah*
Dulu... waktu masih jahiliyyah (sekarang juga masih sih) saya tuh selalu nulis lafal "diatas" dengan penulisan -Insyaallah- waktu itu merasa, "itu tulisan udah bener kok! lagipula klo salah juga yaaaa ga masalah juga kaliii.."<- (Jahiliyyah bgt kan ._. )
Nah. sampai suatu hari ketika mulai diperlihatan pijakan-pijakan hijrah, saya dituntun Allah dan bertemu dengan teman-teman pendakwah, dan berteman jugalah saya di BBMnya. Waktu itu dia pasang DP seperti ini  *nunjukkebawah*

*

Astaghfirullahh.... merenunglah saya saat itu

Berarti selama ini setiap kali nulis insyaAllah, salah dong? Wallahua'lam
Semoga saya tidak termasuk yang menyekutukan Allah atas kebodohan dan segala kehilafan yang tidak disengaja ini. Aamiin Yaa Mujiib..
Nah semenjak itulah setiap kali melafalkan إن شاء الله  selalu saya tulis dengan seperti ini -> "In shaa Allah" dan begitu seterusnya.


Hingga akhirnya saya merasa ini penting dan perlu untuk di-share. Maka saya share..Awalnya saya share via facebook, karena merasa di jejaring sosial itu akan lebih banyak yang membaca namun karena kapasitasnya tidak seleluasa di blog pribadi, maka saya tulis juga versi lengkapnya dari yang saya tahu, disini :) 

Mai... lafal إن شاء الله  itu pake "Syin" bukan "Shad" | Hmmm.....Nah loh. terus yang benar bgaimana? :/

okeoke .kita perhatikan dulu yuk ejaan-ejaan huruf hijaiyah dalam terminology arabic yang ditulis dalam bahasa inggris dan bahasa indonesia ;) *nunjukkebawah*

Ejaan dlm bahasa indonesia
Alif – Ba -Ta- Tsa – Jim – cha – Kho – Dal – Dzal – Ro – Za
Sin - Syin - Shot – Dlo – Tho – Dho – ‘Ain – Ghoin
Fa – Qof – Kaf – Lam – Mim – Nun – Ha – Waw –  Ya


Ejaan dalam bahasa inggris
Alif – Ba -Ta- Tha – Jim – Ha – Kha – Dal – Thal – Ra – Zay
Sin - Shin - Sad – Dad – Ta – Dha – ‘Ayn – Ghayn
Fa – Gaf – Kaf – Lam – Mim – Nun – Ha- Waw – Ya


Yang saya tahu dari searching link to link dalam huruf arab itu tidak ada vokal 'o', yang ada ialah 'a', 'i', dan 'u'.

Dengan memperhatikan ejaan-ejaan diatas, bisa  dilihat bahwa dalam bhs indonesia digunakan kata SYIN sedang dalam ejaan inggris digunakan ejaan SHIN. Ejaan SYIN setahu saya hanya dipake di Malaysia, Pakistan dan India, sedangkan negara-negara lain menggunakan ejaan SHIN.dan akhirnya keheranan saya 'dulu' sama temen dan saudara yang lama tinggal di Jazirah Arab terjawab. Keheranan apa sih Mai?


Iyaa. Heran aja namanya jelas-jelas "Rasyid" tapi dia nulisnya "Rashed" :/

trus saya juga punya follower seorang wanita yang sepertinya berdomisili di Palestina  (menurut TL & cerita-ceritanya)  dia fasih ber-bahasa Inggris dan bisa berbahasa Indonesia. Setiap kali dia menulis lafal إن شاء الله atau  ما شاء الله selalu ditulisnya dengan "In shaa Allah" dan "Maa shaa Allah"

Trus ada lagi nih, kalian tau lagunya Maher Zain yang judulnya Insha Allah? Kenapa ga ditulis dengan InsyaAllah ? Nah loh.


Perbedaan ini wajar terjadi karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an, dimana tidak ada ukuran baku untuk mentransfernya ke dalam alfabet selain arabic.
Wallahua'lam...


Jadi... mana yang benar?
Yang paling benar itu ialah  إن شاء الله  << nulis arabic nya langsung.. hhe ^^v

Kesimpulan :

Sebenarnya yang lebih ditekankan ialah penggalan kata dalam penulisannya -> In shaa Allah / In syaa Allah (untuk versi Indonesia) yang ditulis dalam 3 penggalan. Namun jangan ditulis dengan satu atau dua penggalan kata "InshaAllah / Insha Allah" yang artinya "Create Allah / Membangun Allah" Naudzubillah.. 

Namun untuk cara membacanya tetap sama  kok ^^


Well, sekian dulu yaa.. Semoga bisa bermanfaat, oiya posting tadi dibantu oleh teman sesama blogger saya yang bernama ukhti Rani. Semoga manfaat juga diperolehnya yaa.. Aamiin :')


-salam hangat untuk readers-
Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuh.. ^^